Kamis, 19 Mei 2011

PENELITIAN KUALITATIF Dalam Pendekatan Positivistik, Naturalistik, Simbolik dan Fenomenologik

PENELITIAN KUALITATIF
Dalam
Pendekatan Positivistik, Naturalistik, Simbolik dan Fenomenologik
Oleh: Yuswardi Syukri Reubee

  1. Pendahuluans
Sebelum sampai pada aspek yang lebih teknis, pemakalah memaparkan sedikit tentang perihal metodologi dalam arti umum, adalah studi yang logis dan sistematis tentang prinsip-prinsip yang mengarahkan penelitian ilmiah. Dengan demikian, metodologi dimaksudkan sebagai prinsip-prinsip dasar. Dalam bagan berikut, metodologi, dalam arti prinsip dasar, digambarkan yang intinya terdiri atas: masalah, tujuan, tinjauan pustaka, kerangka teori (jika ada), hipotesis (jika ada), dan cara penelitian. Sedangkan cara penelitian atau methods atau desain penelitian digambarkan yang intinya terdiri atas lima unsur (bahan, alat, jalannya penelitian, variabel penelitian, analisis hasil).
Dalam bahasa sehari-hari, pengertian methodology dan methods ini sering dikacaukan. Seringkali  dijumpai istilah metodologi atau metode penelitian, padahal yang dimaksudkan sebenarnya adalah methods atau cara penelitian-sebagai salah satu tahap dalam metodologi penelitian yang kemudian dituangkan dalam usulan penelitian. Dengan demikian, istilah ”metodologi” di sini adalah dalam arti yang terbatas/sempit.  Sebagai suatu pola, cara penelitian tidak bersifat kaku-bagaimanapun, suatu cara hanyalah alat (jalan) untuk mencapai tujuan. Cara penelitian digunakan secara bervariasi, tergantung antara lain pada obyek (formal) ilmu pengetahuan, tujuan penelitian, dan tipe data yang akan diperoleh. Penentuan cara penelitian sepenuhnya tergantung pada logika dan konsistensi peneliti.
            Dalam penelitian kualitatif Muncul satu pertanyaan, apa arti Penelitian Kualiltatif ? Menurut Anselm Strauss dan Juliet Corbin; Istilah Penelitian Kualitatif yang dimaksudkan adalah sebagai jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistic atau bentuk hitungan lainnya.[1] Sebagaimana pendapat Van Maanen dalam buku Heribertus B. Sutopo Riset yaitu kualitatif diarahkan pada asli subjek penelitian berada. Dimana Kondisi subjek sama sekali tidak dijamah oleh perlakuan (treatment) yang dikendalikan oleh penelitia seperti halnya dalam penelitian bersifat percobaan (eksperimental).[2]
            Terdapat kesalahan pemahaman di dalam masyarakat bahwa yang dinamakan sebagai kegiatan penelitian adalah penelitian yang bercorak survei. Ditambah lagi ada pemahaman lain bahwa penelitian yang benar jika menggunakan sebuah daftar pertanyaan dan datanya dianalisa dengan menggunakan teknik statistik. Pemahaman ini berkembang karena kuatnya pengaruh aliran positivistik dengan metode penelitian kuantitatif.  Ada dua kelompok metode penelitian dalam ilmu sosial yakni metode penelitian kuantitatif dan metode penelitian kualitatif. Di antara kedua metode ini sering timbul perdebatan di seputar masalah metodologi penelitian. Masing-masing aliran berusaha mempertahankan kekuatan metodenya. Salah satu argumen yang dikedepankan oleh metode penelitian kualitatif adalah keunikan manusia atau gejala sosial yang tidak dapat dianalisa dengan metode yang dipinjam dari ilmu eksakta.
            sesuai dengan pendapat Dilthey (dalam Heribertus B. Sutopo) Pandangan baru ini menyajikan kebenaran realitas subjektif yang dikenal sebagai realitas internal yang menantang pandangan faham positivisme yang menganggap kebenaran realitas objektif (eksternal) yang bersifat tunggal.[3] Metode penelitian kualitatif menekankan pada metode penelitian observasi di lapangan dan datanya dianalisa dengan cara non-statistik meskipun tidak selalu harus menabukan penggunaan angka. Penelitian kualitatif lebih menekankan pada penggunaan diri si peneliti sebagai alat. Peneliti harus mampu mengungkap gejala sosial di lapangan dengan mengerahkan segenap fungsi inderawinya.
            Dengan demikian, peneliti harus dapat diterima oleh responden dan lingkungannya agar mampu mengungkap data yang tersembunyi melalui bahasa tutur, bahasa tubuh, perilaku maupun ungkapan-ungkapan yang berkembang dalam dunia dan lingkungan responden. Tampaknya tidak dapat kita menyangkal bahwa kehidupan manusia selalu berubah sehingga memberikan umpan yang sangat menarik untuk dikaji dari rotasi dalam proses perkembangan ilmu pengetahuan, tak lain adalah langkah-langkah yang menyebabkan terjadinya daur perhatian.
Setiap kegiatan penelitian sejak awal sudah harus ditentukan dengan jelas pendekatan/desain penelitian apa yang akan diterapkan, hal ini dimaksudkan agar penelitian tersebut dapat benar-benar mempunyai landasan kokoh dilihat dari sudut metodologi penelitian, disamping pemahaman hasil penelitian  yang akan lebih  proporsional apabila pembaca mengetahui pendekatan yang diterapkan.
Secara umum pendekatan penelitian atau sering juga disebut                paradigma penelitian yang cukup dominan adalah paradigma penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif.  Namun dalam hal ini pemakalah membahas secara umum penelitian kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif karena menggambarkan kondisi secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta kondisi sumberdaya yang terjadi dalam wilayah serta penyelidikan (eksploratif) karena penelitian ini mencari dan menemukan variabel-variabel maupun parameternya dari faktor penentu lokasi penelitian atau wilayah penelitian. Penelitian kualitatif (termasuk penelitian historis dan deskriptif) adalah penelitian yang tidak menggunakan model-model matematik, statistik atau berpikir yang akan digunakan dalam penelitian.
Asumsi dan aturan berpikir tersebut selanjutnya diterapkan secara sistematis dalam pengumpulan dan pengolahan data untuk memberikan penjelasan dan argumentasi. Dalam penelitian kualitatif informasi yang dikumpulkan dan diolah harus tetap obyektif dan tidak dipengaruhi oleh pendapat peneliti sendiri. penelitian kualitatif sebagai  Jenis penelitian yang temuan-temuannya tidak diperoleh melaui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya. Contohnya dapat berupa penelitian tentang kehidupan, riwayat, dan perilaku seseorang, disamping juga tentang peranan organisasi, pergerakan sosial, atau hubungan timbal balik.[4]
Penelitian kualitatif banyak diterapkan dalam penelitian historis atau deskriptif. Penelitian kualitatif mencakup berbagai pendekatan yang berbeda satu sama lain tetapi memiliki karakteristik dan tujuan yang sama. Berbagai pendekatan tersebut pemakalah hanya menyajikan empat pendekatan antara lain: penelitian kualitatif positivistic, naturalistik, simbolik dan kualitatif fenomenologik. Metode kualitatif menggunakan beberapa bentuk pengumpulan data seperti transkrip wawancara terbuka, deskripsi observasi, serta analisis dokumen dan artefak lainnya. Data tersebut dianalisis dengan tetap mempertahankan keaslian teks yang memaknai dan memahaminya.

  1. Pendekatan Positivistik
            Penelitian yang digunakan dalam pendekatan Positivistik, yaitu berpikir positivistik adalah berpikir spesifik, berpikir tentang empirik melalui pengamatan yang terukur dan dapat dihapuskan (eliminasi) serta dapat dimanipulasikan, dilepaskan dari satuan besarnya. Tata fikir logik yang dominan dalam metodologi penelitian positivistik adalah sebab akibat (kausalitas), tidak ada akibat tanpa sebab. Pendekatan positivistik juga merupakan pendekatan dimana setiap orang yang melakukan penelitian mencoba menganalisa fakta-fakta dan data-data empiris untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi/menyebabkan terjadinya sesuatu hal.  Secara umum berita sebagai sebuah produk kerja wartawan dipahami sebagai sebuah realita yang “direpresentasikan” secara utuh apa adanya, persis seperti realita yang terjadi di lapangan.
Salah satu buah pikirannya yang sangat penting dan berpengaruh adalah tentang tiga tahapan/tingkatan cara berpikir manusia dalam berhadapan dengan alam semesta yaitu : tingkatan Teologi, tingkatan penyelidikan tentang watak realitas (Metafisik), dan tingkatan Positif
v  Tingkatan Teologi (Etat Theologique). Pada tingkatan ini manusia belum bisa memahami  hal-hal yang berkaitan dengan sebab akibat. Segala kejadian dialam semesta merupakan akibat dari suatu perbuatan Tuhan dan manusia hanya bersifat pasrah, dan yang dapat dilakukan adalah memohon pada Tuhan agar dijauhkan dari berbagai bencana. Tahapan ini terdiri dari tiga tahapan lagi yang berevolusi yakni dari tahap animisme, tahap politeisme, sampai dengan tahap monoteisme.
v  Tingkatan Metafisik (Etat Metaphisique). Pada dasarnya tingkatan ini merupakan suatu variasi dari cara berfikir teologis, dimana Tuhan atau Dewa-dewa diganti dengan kekuatan-kekuatan abstrak misalnya dengan istilah kekuatan alam. Dalam tahapan ini manusia mulai menemukan  keberanian dan merasa bahwa kekuatan yang menimbulkan bencana dapat dicegah dengan memberikan berbagai sajian-sajian sebagai penolak bala/bencana.
v  Tingkatan Positif (Etat Positive). Pada tahapan ini manusia sudah menemukan pengetahuan yang cukup untuk menguasai alam. Jika pada tahapan pertama manusia selalu dihinggapi rasa khawatir berhadapan dengan alam semesta, pada tahap kedua manusia mencoba mempengaruhi kekuatan yang mengatur alam semesta, maka pada tahapan positif manusia lebih percaya diri, dengan ditemukannya hukum-hukum alam, dengan bekal  itu manusia mampu menundukan/mengatur (pernyataan ini mengindikasikan adanya pemisahan antara subyek yang mengetahui dengan obyek yang diketahui)  alam serta memanfaatkannya untuk kepentingan manusia, tahapan ini merupakan tahapan dimana manusia dalam hidupnya lebih mengandalkan pada ilmu pengetahuan.
Dengan memperhatikan tahapan-tahapan sepertti kemukakan di atas nampak bahwa istilah positivisme mengacu pada tahapan ketiga (tahapan positif/pengetahuan positif). Tahapan positif merupakan tahapan tertinggi, ini berarti  dua tahapan sebelumnya merupakan tahapan yang rendah dan primitif, oleh karena itu Positivisme merupakan suatu filsafat yang anti metafisik, hanya fakta-fakta saja yang dapat diterima. Segala sesuatu yang bukan fakta atau gejala (fenomin) tidak mempunyai arti, oleh karena itu yang penting dan punya arti hanya satu yaitu mengetahui (fakta/gejala) agar siap bertindak. kemudian kita melirik pada pendekatan dibawah ini.

  1. Pendekatan Naturalistik
“kualitatif pendekatan naturalistic” istilah ini menunjukkan bahwa pelaksanaan ini memang terjadi secara alamiah, apa adanya, dalam situasi normal yang tidak dimanipulasi keadaan dan kondisinya, menekankan pada deskripsinya secara alami.[5]  fenomena dari sudut pandang partisipan, konteks sosial dan institusional. Sehingga pendekatan kualitatif umumnya bersifat induktif. Penelitian kualitatif adalah satu model penelitian humanistik, yang menempatkan manusia sebagai subyek utama dalam peristiwa sosial/budaya.
Pada bagian ini menjelaskan interaksi atau pendekatan naturalistik, sebagaimana pendapat Bagong Suyanto dan Sutinah: Naturalis (wajar)  karena peneliti tidak berusaha memanipulasi atau bahkan menyimulasi suasan penelitian. Hal yang dikaji adalah situasi dunia nyata sebagaimana terjadi secara wajar. Peneliti sedapat-dapatnya tidak mengusik ataupun mengontrol. Ia bersikap terbuka  terhadap apa saja yang muncul. Tidak ada kendala-kendala yang telah ditentukan dari awal terhadap hasil yang diharapkan. [6] Sesungguhnya tidak populer dalam kajian sosiologi. Dasar pikiran penggunaan istilah interaksi naturalistik tidak lain adalah kenyataan empiris yang menunjukkan adanya tipe interaksi yang terjadi secara alamiah di hampir semua masyarakat.
Suatu interaksi disebut interaksi naturalistik adalah interaksi sosial yang terjadi karena tuntutan dasar setiap individu yang karena kodratnya ia seharusnya melakukan interaksi semacam itu. Oleh karena itu, sifat interaksi naturalistik tersebut tidak dirancang secara sistematis dan tidak pula karena adanya intervensi. Interaksi itu berlangsung secara natural, di mana satu sama lain ingin saling mengenal, saling berkomunikasi, saling bertransaksi, dan seterusnya saling membantu. Secara sederhana, interaksi naturalistik itu terjadi karena dorongan dari dalam diri individu yang ia lakukan untuk memenuhi hajat hidupnya sebagai makhluk biologis dan makhluk sosial. Ini mengilustrasikan karakteristik alamiah dari tipe-tipe interaksi sosial yang dikembangkan oleh setiap individu yang mengikuti tingkatan kebutuhannya.
Tipe interaksi yang diutamakan seseorang bergerak dari interaksi yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar biologis, dan selanjutnya bila kebutuhan itu sudah terpenuhi maka ia akan menampilkan tipe interaksi untuk memenuhi rasa aman, dan jika sudah terpenuhi lalu menampilkan tipe interaksi untuk memenuhi kebutuhan afiliasi, dan seterusnya sampai pada tipe interaksi untuk memenuhi kebutuhan aktualisasi diri. Interaksi-interaksi yang timbul dari motif kebutuhan jauh lebih penting daripada interaksi-interaksi lainnya, seperti faktor kekerabatan dan keagamaan.
Secara faktual, seseorang akan siap berinteraksi dengan siapa saja (dalam batas norma-norma sosial) untuk memenuhi kebutuhannya. Bertolak dari fakta-fakta sosial tersebut dapat disimpulkan bahwa interaksi yang ditimbulkan oleh motif kebutuhan tumbuh secara natural. Interaksi itu mendorong orang untuk hidup harmonis dan sejajar dengan anggota masyarakat lainnya, tanpa membedakan latar etnis dan agama. Interaksi yang bersifat natural semacam ini pasti ditemukan dalam semua tipe masyarakat, baik pada masyarakat nelayan, pedagang, buruh, petani, dan sebagainya.

  1. Pendekatan Simbolik
Interaksi simbolik dalam sosiologi juga menunjang dan mewarnai kegiatan penelitian kualitatif. Sejalan dengan pendekatan fenomenologis, dasar pandangan atas interaksi simbolik adalah asumsi bahwa pengalama n manusia diperoleh lewat iterpretasi. Objek, situasi, orang dan peristiwa, tidak memiliki maknanya sendiri. [7]
Dasar Interaksi simbolik adalah salah satu model penelitian budaya yang berusaha mengungkap realitas perilaku manusia. Falsa­fah dasar interaksionisme simbolik adalah fenomenologi. Namun, dibanding penelitian naturalistik dan etnografi yang juga memanfa­atkan fenomenologi, interaksionisme simbolik memiliki paradigma penelitian tersendiri.
Model penelitian ini pun mulai bergeser dari awalnya, jika semula lebih mendasarkan pada interaksi kultural antar personal, sekarang telah berhubungan dengan aspek masyarakat dan  atau kelompok. Karena itu bukan mustahil kalau awalnya lebih banyak dimanfaatkan oleh penelitian sosial, namun selanjutnya juga diminati oleh peneliti budaya. Perspektif interaksi simbolik berusaha memahami budaya lewat perilaku manusia yang terpantul dalam komunikasi. Interaksi simbolik lebih menekankan pada makna interaksi budaya sebuah komunitas.
            Interaksi simbolik adalah interaksi yang memunculkan makna khusus dan menimbulkan interpretasi atau penafsiran. Simbolik berasal dari kata ’simbol’ yakni tanda yang muncul dari hasil kesepakatan bersama. Bagaimana suatu hal menjadi perspektif bersama, bagaimana suatu tindakan memberi makna-makna khusus yang hanya dipahami oleh orang-orang yang melakukannya, bagaimana tindakan dan perspektif tersebut mempengaruhi dan dipengaruhi subyek, semua dikaji oleh para penganut interaksinisme atau interaksionis simbolik.
            Premis perbedaan mendasar antara fenomenologi dan interaksi simbolik muncul dari makna katanya sendiri: fenomena dan interaksi. Fenomenologi bertumpu pada pemahaman terhadap pengalaman subyektif atas gejala alamiah (fenomena) atau peristiwa dan kaitan-kaitannya, sedangkan interaksi simbolik bertumpu pada penafsiran atas pemaknaan subyektif (simbolik) yang muncul dari hasil interaksi. Pada fenomenologi, ibarat fotografer, peneliti ’merekam’ dunia (pengalaman, pemikiran, dan perasaan subyektif) si subyek dan mencoba memahami atau menyelaminya, sedangkan pada interaksi simbolik, peneliti menafsirkan makna-makna simbolik yang muncul dari hasil interaksi subyek dengan lingkungannya dengan cara memasuki dunianya dan menelusuri proses pemaknaan tersebut.

  1. Pendekatan Fenomenologik
Perspektif fenomenologis mempunyai posisi sentral dalam metodologi penelitian kualitatif. Apa yang menjadi target dalam suatu penelitiannya, bagaimana cara melakukan dalam kondisi penelitian, serta cara menganalisa hasil penelitiannya hal ini sangat terpaut pada teori yang sesuai dengan riset.  Metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dengan pendekatan Fenomenologi. Bogdan dan Biklen (dalam Heribertus) Pada dasar itu riset kulitatif bertujuan untuk mendapatkan pengertian atas subjeknya dari pandangan subjek itu sendiri [8]
Metode ini lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan-ganda - contoh  bentuk penelitian yang nyata, berikut adalah penelitian yang dilakukan dengan mengangkat permasalahan partisipasi orang tua dalam bentuk pemikiran, tenaga, dan finansial sebagai peran serta wali murid di Sekolah Dasar negeri 1 Lhokseumawe -  Karena membicarakan watak realitas alamiah ini menghendaki adanya kenyataan- kenyataan sebagai keutuhan yang tidak dapat dipahami jika dipisahkan dari konteksnya. penelitian deskriptif dalam hal ini adalah jenis penelitian yang memberikan gambaran atau uraian atas suatu keadaan sejelas mungkin tanpa ada perlakuan terhadap objek yang diteliti.
Dengan demikian, Fenomenologi merupakan pandangan berpikir yang menekankan pada fokus kepada pengalaman-pengalaman subjektif manusia dan interpretasi-interpretasi dunia. Fenomenologi diartikan sebagai pengalaman subjektif atau pengalaman fenomenologikal dan suatu studi tentang kesadaran dari perspektif pokok dari seseorang. Secara lebih khusus, istilah ini mengacu pada penelitian terdisiplin tentang kesadaran dari perspektif pertama seseorang.
Dalam menarik kesimpulan dari data yang dihasilkan, penelitian ini menggunakan teknik analisis data kualitatif dengan pendekatan induktif. Artinya, peneliti berangkat dari fakta/  informasi/ data empiris untuk membangun teori. Upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.  
Dalam faham fenomenologi dimana obyek-obyek harus diberikan kesempatan  untuk berbicara melalui deskripsi fenomenologis guna mencari hakekat gejala-gejala. Berkaitan dengan hakekat obyek-obyek, untuk menangkap hakekat obyek-obyek diperlukan tiga macam reduksi guna menyingkirkan semua hal yang mengganggu dalam mencapai gejala-gejala yaitu:  Reduksi pertama. Menyingkirkan segala sesuatu yang subyektif, sikap kita harus obyektif, terbuka untuk gejala-gejala yang harus diajak bicara. Reduksi kedua. Menyingkirkan seluruh pengetahuan tentang obyek yang diperoleh dari sumber lain, dan semua teori dan hipotesis yang sudah ada,  Reduksi ketiga. Menyingkirkan seluruh tradisi pengetahuan. Segala sesuatu yang sudah dikatakan orang lain harus dilupakan untuk sementara, kalau reduksi-reduksi ini  berhasil, maka gejala-gejala akan memperlihatkan dirinya sendiri/dapat menjadi fenomena atau suatu fakta.      
Berdasar uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Penelitian Pendekatan fenomenologi ini berupaya untuk mendalami atau memahami makna dari berbagai peristiwa dan iteraksi manusia di dalam situasi yang khusus. Artinya peneliti tidak memahami makna dari berbagai hal pada sesuatu yang sedang dipelajarinya. Berpijak atas dasar itu faham penelitian kualitatif ini mempunyai tujuan untuk mendapatkan pemahaman atau pengertian atas subjeknya  dari pandangan subjek itu sendiri

DAFTAR PUSTAKA

Strauss Anselm dan Corbin,Juliet Dasar-dasar Penelitian Kualitatif tatalangkah dan Teknik-teknik Teoritsasi data.(jogyakarta; Pustaka Pelajar, 2003), Cet. I. Terj

Maanen Van, Dabbs J., Faulkner J. M., R. R: Varities of Qualitative Research. (Beverly Hills, CA. Sage Publications: 1984).

Yin, K. R, Case Study research : Design and Methods (Beverly Hills, CA. Sage Publications: 1987)

            B. Sutopo Heribertus, Penelitian Kualitatif ,(Surakarta, Dep. Pend. dan kebudayaan RI. Universitas Sebelas Maret: 1996)








[1] Anselm Strauss dan Juliet Corbin, Dasar-dasar Penelitian Kualitatif tatalangkah dan Teknik-teknik Teoritsasi data.(jogyakarta; Pustaka Pelajar, 2003), Cet. I. Terj. hal. 4
                [2] Heribertus B. Sutopo, Penelitian Kualitatif ,(Surakarta, Dep. Pend. dan kebudayaan RI. Universitas Sebelas Maret: 1996), h. 4
                [3] Ibid. h. 6
                [4]Ibid.h.4
[5] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian suatu pendakatan praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006) cet. XIII, hal. 12
[6] Bagong Suyanto dan Sutinah, Metode Penelitian Sosial berbagai alternatife pendekatan, (Jakarta: Kencana. 2007) cet. III. h. 184
[7] Heribertus. B. Sutopo,  Metodologi Penelitian Kualitatif untuk penelitian kualitatif, (Surakarta\: 1996). h. 29-30
[8] Ibid. h. 29

1 komentar:

  1. terimakasih atas tulisannya, amat berguna untuk pengembangan ilmu pengetahuan sosial

    BalasHapus